A Calligraphy-Contemporaneity Discourse 

Excogitating the calligraphy form to scrutinize the contemporaneity term in art nowadays as discoursing of materials and methods

Advertisements

Kemarin, baru saja selesainya perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXIX di Kabupaten Barru, dimana sebelum itu, pun kini, seni kontemporer dunia masih dalam pendefinisisannya untuk mereinterpresentasi bentuk dan makna-historis modernisme dan posmodernisme – yang juga multitafsir bahkan samar dengan simulakranya (tumpang tindihnya makna, campur baurnya penanda petanda). Indonesia sendiri menggunakan istilah seni kontemporer ketika mengadakan pameran besar dengan beberapa lukisan tokoh seniman modern dunia, salah satunya van gogh, pada 1970an. Menariknya bahwa Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) dalam MTQ telah dua kali memperlombakan Kaligrafi Kontemporer, yakni pertama kali hanya dijadikan sebagai eksebisi pada MTQ XXVIII 2014,…karena minat pada cabang tersebut cukup tinggi, tulis BATAM, METRO; dan dipertegas oleh salah seorang Dewan Hakim, Ahmad Syafruddin, “Pemenang pada lomba ini akan mendapatkan hadiah dari Gubernur. Tapi tidak menjadi poin untuk kemenangan. Jadi hanya dikasih nilai saja. Kita akan berusaha ini (Golongan Khattil Qur’an Kontemporer) masuk ke salah satu bidang,” (http://www.lemka.net/2014/06/kaligrafi-kontemporer-akan-jadi-cabang.html).

Yesterday, has done newly the festivity of Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXIX in Barru Regency, whereas before, as now, the contemporary art world has still in its definition to reinterpret a form and a historical meaning of modernism and postmodernism that also multi-interpreted even blurred with its simulacrum. Indonesia itself uses the term of the contemporary art when conducted the big exhibition by several paintings of the artist figures in the world, Van Gogh among of those, by 1970s. Interestingly that Lembaga Kaligrafi Alquran (LEMKA) in MTQ have had twice competing a contemporary calligraphy, the first on just as exhibition in MTQ XXVIII 2014,…karena minat pada cabang tersebut cukup tinggi, tulis BATAM, METRO; dan dipertegas oleh salah seorang Dewan Hakim, Ahmad Syafruddin, “Pemenang pada lomba ini akan mendapatkan hadiah dari Gubernur. Tapi tidak menjadi poin untuk kemenangan. Jadi hanya dikasih nilai saja. Kita akan berusaha ini (Golongan Khattil Qur’an Kontemporer) masuk ke salah satu bidang,” (http://www.lemka.net/2014/06/kaligrafi-kontemporer-akan-jadi-cabang.html).

Ahmad Jawas (@jawas_war), salah satu kaligrafer yang pernah mewakili Indonesia dalam lomba kaligrafi se-ASEAN pada 2001 di Brunei: juara 3 khat diwani, dan eksibisi se-ASEAN pada 2002 di Indonesia, yang masih aktif dalam proyek dekorasi masjid di Sulawesi Selatan. “Kaligrafi itu baku: ada bentuk-bentuk huruf, huruf-huruf itu ada aturannya, kaidah masing-masing yang tidak bisa keluar dari situ” jelasnya di waktu yang sama ketika secara resmi MTQ XXIX ditutup. Ia pun sempat belajar di LEMKA pada kurun waktu 2000-2004, dua tahun aktif mempelajari dasar-dasar penulisan dan jenis-jenis tulisan kaligrafi (khat: secara umum ada tujuh di Indonesia). Dalam wawancara tersebut, mencoba mengkaji dasar perkembangan kaligrafi Indonesia dan dunia, dengan International Calligraphy Competition (IRCICA) sebagai studi perbandingan. Baru-baru ini memang, 17 Mei 2016, diumumkan para juara kaligrafi dalam sebelas khat yang dilombakan, yakni Jaly Thuluth, Thuluth, Naskh, Muhaqqaq-Reyhani, Jaly Taliq, Taliq (Nastaliq), Jaly Diwani, Diwani, Qufi, Rika and Maghribi. The Jury was composed of the following specialists and masters of this art: Mr. Abdulridha Behiye al-Farjawi from Iraq, Mr. Jalil Rasuli from Iran, Mr. Fuad Başar from Turkey, Mr. Mossad Khodeir from Egypt, Mr. Obeyda Banki from Syria, Mr. Hamidi Belaid from Morocco, and Mr. Davut Bektaş from Turkey, with honorary members Prof. Uğur Derman and master calligrapher Hasan Çelebi (http://www.ircica.org/ircicas-tenth-international-calligraphy-competition-in-the-name-of-hafiz-osman-finalized-and-winners-announced–17-may-2016/irc1113.aspx). Di sini, jelas bahwa Golongan Khattil Qur’an Naskhi, Hiasan Mushaf, Dekorasi, dan Kontemporer di Indonesia berbeda dengan dasar kajian perkembangan kaligrafi yakni dinilai dan dievaluasi dari kaidah huruf dan bentuk ayat yang memiliki aturan masing-masing, sedang hiasan/mushaf/dekorasi atau lebih dikenal sebagai geometri ornamen hanya digunakan sebagai pendukung/pelengkap dalam eksibisi khususnya. “Di Turki sana, dari beberapa foto yang saya lihat, bahkan itu pameran lagi, yang banyak bervariasi itu cuma background dan ornamen yang dimainkan, sedangkan kaidah-kaidah yang ada disitu yang dieksplorasi adalah komposisi bentuk-bentuk huruf tapi kaidahnya tidak dirubah, jadi yang dirubah hanyalah komposisi bentuk” imbuhnya. Sehingga dengan kata lain kaidah huruf tidak bisa dirubah tetapi kaidah ayat secara komposisi bisa disesuaikan dengan  konsep yang ingin dimainkan, “makanya lomba kaligrafi internasional di Turki itu, tidak pernah memasukkan unsur ornamen sampai sekarang” tegasnya.

Ahmad Jawas (@jawas_war), one of a calligrapher who ever represented Indonesia in the calligraphy competition of ASEAN in Brunei by 2001: the third winner of khat diwani (one of arabian calligraphy style), and ASEAN exhibition in Indonesia by 2002, who still acted actively in a mosque decoration project in South Sulawesi. “The calligraphy has a principal standard: there is the forms of the font style, that fonts has a rule, a fundamental theorem that cannot be out of its,” his explained when the MTQ XXIX closed at once. He also has studied in LEMKA by the range of 2000-2004, two years actively learned a basic writing and the kinds of the calligraphy khat (fonts: there are seven styles that use in Indonesia). On that interviewing, tried to scrutinize a basic development of the calligraphy in Indonesia and in the world, with International Calligraphy Competition (IRCICA) as study comparing. Recently indeed, May 17 2016, has been announced the calligraphy winners in eleven khat that competed: those are Jaly Thuluth, Thuluth, Naskh, Muhaqqaq-Reyhani, Jaly Taliq, Taliq (Nastaliq), Jaly Diwani, Diwani, Qufi, Rika and Maghribi. The Jury was composed of the following specialists and masters of this art: Mr. Abdulridha Behiye al-Farjawi from Iraq, Mr. Jalil Rasuli from Iran, Mr. Fuad Başar from Turkey, Mr. Mossad Khodeir from Egypt, Mr. Obeyda Banki from Syria, Mr. Hamidi Belaid from Morocco, and Mr. Davut Bektaş from Turkey, with honorary members Prof. Uğur Derman and master calligrapher Hasan Çelebi (http://www.ircica.org/ircicas-tenth-international-calligraphy-competition-in-the-name-of-hafiz-osman-finalized-and-winners-announced–17-may-2016/irc1113.aspx). Here, to be sure that a category of Khattil Qur’an Naskhi, Hiasan Mushaf, Dekorasi, and Kontemporer in Indonesia differed with the basic review of the calligraphy development that be assessed and evaluated from the font theorem and verse model which have each rule, besides hiasan/mushaf/dekorasi (the style category of caligraphy competition in Indonesia) or well-known as a ornament geometry used merely as a complement in exhibition especially. “In Turkey, from several pictures that I have seen, even its the exposition, the things that have many variations just a backround and ornament which decorated, while the fundamental theorem unchanged, changing only the model composition by meant,” his augmented. Henceforth, the font theorem cannot be changed but the verse theorem in composition can be adapted with a concept wanting to play, “so, the iinternational calligraphy competition in Turkey, has been never entered the ornament element till now,” his specified.

Lebih lanjut, dengan mengutip pernyataan Seyyed Hossein Nasr (1993) tentang geometri spirit: simbolisme spiritual kaligrafi islam, bahwa sekalipun kaligrafi telah berkembang dalam berbagai bentuk serta mencakup berbagai fungsi dan bidang yang secara tidak langsung dihubungkan dengan teks Al-Quran, ada suatu hubungan secara prinsip antara kaligrafi, yang bermula dari konteks Al-Quran semata, dan substansi spiritual Al-Quran yang terus hidup di dalam seluruh aspek kaligrafi Islam tradisional; kaidah tulisan dalam kaligrafi merupakan subtansi dasar. Dari sudut pandang tersebut, kaligrafi yang dikaitkan dengan gejala kontemporer yang disebut sebagai kaligrafi kontemporer di Indonesia perlu dikaji lebih dalam lagi. Pun secara historis, kaligrafi kontemporer dikenal karena pengaruh gejala seni kontemporer yang sedang berkembang pesat pada waktu itu, dimana banyak mengabstraksikan bentuk-bentuk geometris bahkan kaligrafi sebagai objek pada akhir 90an; salah satu tokohnya yakni AD Pirous.

Furthermore, quoted Seyyed Hossein Nasr’s statement (1993) about the spirit geometry: simbolisme spiritual kaligrafi islam, bahwa sekalipun kaligrafi telah berkembang dalam berbagai bentuk serta mencakup berbagai fungsi dan bidang yang secara tidak langsung dihubungkan dengan teks Al-Quran, ada suatu hubungan secara prinsip antara kaligrafi, yang bermula dari konteks Al-Quran semata, dan substansi spiritual Al-Quran yang terus hidup di dalam seluruh aspek kaligrafi Islam tradisional; kaidah tulisan dalam kaligrafi merupakan subtansi dasar. In keeping with perspectiveness, the calligraphy linking with the contemporaneity symptom that called as a contemporary calligraphy in Indonesia needs to more excogitate deeply. Historically on the other, its has known because of am influence of the symptom of the contemporary art spreading out at that time, abstracting the geometrical forms in many models even the calligraphy as an object by the end of the 90s; one of the figure is AD Pirous.    

In the blessed writing of the Shah, the Refuge of Sanctity, the tops of the alifs are twin-horned and the beauty of these alifs is manifested in the highest degree of elegance, grace, and delicacy (V. Minorsky, 1959: 54). Setiap huruf dalam kaligrafi memiliki makna transendental tersendiri dalam kaidahnya masing-masing, melengkapi satu dengan lainnya dalam komposisi ayat yang utuh. Di sini, seni kaligrafi dalam Islamic Art memang sangat berbeda karena tesisnya bukan praduga yang ingin disimbolkan tetapi berasal dari hal hakiki yang dasarnya memang bersifat abstrak dan simbolis sehingga jika diamati lebih memainkan bentuk geometris yang saling berhubungan; berbeda dengan lukisan yang mengambil kaligrafi sebagai objek abstraksinya (kaligrafi kontemporer).

In the blessed writing of the Shah, the Refuge of Sanctity, the tops of the alifs are twin-horned and the beauty of these alifs is manifested in the highest degree of elegance, grace, and delicacy (V. Minorsky, 1959: 54). Every font in calligraphy has a transcendental meaning itself on each theorem, completing one the other by the intact composition of verse. By here, the art of the calligraphy in Islamic Art has differed obviously because its thesis has unprejudiced that wanted to be symbolized but from an instrinsic in which the basic indeed is abstracted and symbolized so that if it watched, it more played the geometrical form lingking each other; it varies with a painting taking its as its abstract object (the contemporary calligraphy)   

Gejala-gejala kontemporer yang muncul di Indonesia sejak Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada 1974, memang, menjadi sebuah katalis terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia lebih lanjut yang tidak mengenal batasan material dan medium lagi. Terlebih lagi dengan situasi sosial budaya  yang jauh beda dengan negara lainnya hingga tentunya tidak dapat begitu saja dibandingkan dengan perkembangan kesenirupaannya. Olehnya itu pula, kaligrafi yang awalnya muncul dan berkembang di timur tengah, khususnya Turki dan Irak – menggambarkan kemajuan kaligrafi dunia – pun memiliki hal yang sama jika ingin dikaji perbandingan perkembangannya. Meskipun demikian, perbedaan sosial budaya ini, bukanlah hal yang dapat dijadikan sebagai antitesis apalagi pembenaran dengan keadaaan kaligrafi di Indonesia kini. Bahkan seharusnya menjadi kajian baru yang lebih mendalam guna mengintegrasikannya sehingga mampu pula memberikan sumbangan terhadap perkembangan kaligrafi. Ditambah lagi dengan adanya LEMKA, tentu sudah seharusnya telah mampu memberikan pembelajaran yang lebih profesional.

The calligraphy symptoms appearing in Indonesia since the New Visual Art Movement (Gerakan Seni Rupa Baru, GSRB) by 1974, became a catalos toward the contemporary visual art of Indonesia further that unknown the material and medium restriction anymore. Furthermore with the social culture has differed with the other nation so that cannot be compared with its visual art development. Therefore, the calligraphy in the beginning showed and developed in the Middle East, specially in Turkey and Iran–drawing the embodiment of the calligraphy in the world–also have the same If we want to assess its compared development. Howsoever, this social culture difference is not to be an antithesis even a justification with the Indonesian calligraphy situation by now. Even so become a new excogitation to integrate so that can also contribute for the calligraphy development in the world. By adding with LEMKA, certainly it ought to hold a profesional learning after all. 

Rasanya sulit, namun bukan mustahil Indonesia mampu bersaing pada kompetisi kaligrafi dunia, buktinya di IRCICA X, yang diikuti oleh 688 peseta dari 36 negara, tiga kaligrafer Indonesia menjadi juara, berturut-turut yakni Juara 1 bersama Khat Jali Diwani oleh Muhammad Zaenuddin Ahmadun, Juara 2 bersama Khat Maghribi oleh Darmawan bin Sarjani, dan Juara 3 bersama Khat Maghribi oleh Novitasari Dewi. Kebanggaan sekaligus kemajuan pesat dengan mengingat bahwa sejak Indonesia mengikuti kompetisi tersebut, baru kali ini memenangkannya, namun di satu sisi, keadaan kaligrafi nasional masih dalam berbagai permasalahannya, terlihat sekedar dilombakan sesuai dengan minat dan malah mengabaikan hakikat kaligrafi itu sendiri.

Feeling hardly, but not an impossible Indonesia can contend in the international calligraphy competition, as a proven in IRCICA X, following continuously the first-together winner of Khat Jali Diwani by Muhammad Zaenuddin Ahmadun, The second-together winner of Khat Maghribi by Darmawan bin Sarjani, and the third-together winner of Khat Maghribi by Novitasari Dewi. The pride and a fast progress remembering since Indonesia followed that competition, just by now winning its, but on the other hand, the national calligraphy condition still on any problem, looking just be competed based on the interest but also ignored the calligraphy theorem itself.

Apa yang mampu dipelajari dari “kaligrafi kontemporer” adalah perkembangan kaligrafi dalam ide kontemporer global yakni pencarian bentuk lebih baru: mencari dirinya sendiri. Fenomena ini, yang juga masih menjadi permasalahan perkembangan kesenirupaan Indonesia dimana secara kajian belum berkembang sebagaimana penciptaan karya seninya sendiri. Interpretasi-interpretasi yang ada pun hanya kadang memicu permasalahan lain yang menginterrelasikan berbagai bentuk yang lagi banyak diminati oleh khalayak kebanyakan. Pertanyaannya kini, kemana arah kaligrafi yang ingin dikontemporerkan?

What we can learn from “the contemporary calligraphy” is the calligraphy development in the global contemporaneity idea searching a new form again: looking its oneself. This phenomenon, still take the problem of the Indonesian Visual Art development where not developed yet in theory as good as its art-work creation. The interpretations have merely triggered the other problems interrelating various models demanded by public mostly. The question is, where the course of the calligraphy that want to be contemporarized?  

 

September 17, 2016 at 6:26 PM
…selamat #berdiskursus, kurru sumange

Data Resource: Ahmad Jawas, Interview, 2016
Image Resources: Farid Wajdi, 2017

Author: JR

artivist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s